Kenapa Saya Jadi Fans JKT48?

Sekedar curhat, tidak lebih.

Jawaban pertanyaan itu ketika pertama kali saya bilang saya menyukai JKT48 sekitar setahun lalu adalah lagu-lagunya. Di luar situasi bahwa saya sempat menggemari AKB48 sesaat di tahun 2008, saya kira hampir semua penggemar anime dan dorama Jepang yang banjir di televisi pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an familiar dengan musik yang mereka bawakan. Lirik-lirik yang puitis tapi mengena permasalahan sehari-hari dengan musik yang kebanyakan upbeat menciptakan semacam rasa melankolik sekaligus optimisme secara bersamaan. Bagi orang awam penerjemahan lirik yang bergaya Haiku tersebut mungkin terdengar aneh ditambah lagi kualitas terjemahan lagu-lagu JKT48 pada saat itu tidak bisa dibilang memuaskan. Karena itu, saya pikir JKT48 hanya akan populer di kalangan pecinta budaya Jepang saja. Saya tidak pernah lebih salah lagi.

JKT48 adalah fenomena. Istilah bombastis ini belakangan seringkali digunakan berbagai media untuk menjelaskan perkembangan JKT48 yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang Indonesia. Orang bisa mengerti ketika kebanyakan remaja putri tergila-gila pada K-Pop yang diisi lelaki-lelaki rupawan dengan bodi ateletis dan semampai, tapi apa yang membuat segerombolan gadis-gadis remaja lokal item kucel yang kebanyakan baru puber dengan penampilan biasa-biasa saja dapat menarik hati ratusan ribu penggemar yang kebanyakan laki-laki?

Saya malas menjelaskan karena sudah banyak sekali penjelasan tentang itu. Kalau mau bisa Anda bisa lihat di blog-nya Pitra ini, rangkuman di sini, atau silahkan memanfaatkan jasa Bing, Yahoo Search, atau apapun asal jangan Google. Nanti ketemunya terlalu cepat sepersekian detik.

Kalau saya menyebutkan seribu alasan untuk menyukai JKT48 saya pun bisa menyebutkan seribu alasan untuk tidak menyukai JKT48. Saya yang kenyang menyantap teori-teori kritis dan posmodern macam Deleuze dan Guattari tentang eksploitasi tubuh wanita sebagai bagian dari bisnis citraan kapitalis atau Derrida tentang banalnya gaya hidup posmodern yang terbuai tontonan yang tidak lebih dari skenario delusif, atau Richard Kirby dan Christopher Lasch yang bicara tentang pencarian manusia konsumer pada terapi yang bersifat ilusi-ilusi sementara, ataupun psikoanalisis model Lacan yang melihat ekonomi libido sebagai cerminan dari ketidakmampuan kita untuk menerima visi nyata diri kita. Kalau kalian tidak mengerti saya ngomong apa, mari kita lompat saja ke intinya: model bisnis JKT48 tidak saya ragukan merupakan manifestasi dari apa yang mereka tentang.

Saya tidak paham, mungkin awalnya di tengah keputusasaan melihat kebanyakan selebritis-selebritis cewek begitu bertingkah dan seringkali terlihat menyebalkan dan sok iyes, mereka hadir dengan kepolosan yang tidak dibuat-buat. Wawancara mereka kaku, dance mereka berantakan, menyanyi pun masih lipsync, nothing good selain lagu yang memang enak didengar walaupun terjemahan liriknya setara terjemahan lagu kartun Minggu pagi. Saya terang saja misuh-misuh: “Hey dude, ngapain mereka ditempatin di salah satu medan perang paling brengsek bernama dunia hiburan Indonesia? Lu mau bunuh mereka?”

Tapi di saat bersamaan, saat melihat bagaimana gadis-gadis belia tersebut berusaha keras, mencoba tumbuh dari seorang yang biasa-biasa saja menjadi gadis yang serba bisa, melihat bagaimana mereka kerap diperlakukan buruk tapi tetap berupaya sekuat tenaga mereka, dan bagaimana mereka mengapresiasi setiap dukungan fans dengan tulus seolah itu sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidup mereka, saya pun luluh. Perasaan seperti melihat anak kucing terlantar yang berupaya terus hidup dan tersenyum itu melunakkan hati saya. Dan pada saat itu saya memutuskan mengadopsi mereka sementara saja, sampai mereka kuat. Di sinilah brengseknya skenario yang disusun oleh that bastard gendut berkacamata Akimoto Yasushi. Saya tahu pada dasarnya ini bisnis, tapi gadis-gadis itu terlalu rapuh dan innocent untuk digagalkan di tengah jalan. Saya tahu betapa bejatnya eksploitasi terhadap rasa ingin mendukung itu dengan menyodorkan produk-produk yang seberapa pun norak atau tidak bergunanya tetap juga dibeli. Saya tahu betapa pathetic-nya bahagia hanya karena 10 detik momen salaman dengan gadis yang didukung. Saya juga muak melihat bagaimana beberapa fans yang banyak mulut ke sana ke mari teriak kosong hanya atas nama fanatisme. Saya juga pengen ngetok kepala fans-fans yang terjebak limerence, sambil teriak hey man get a life! Saya tahu betapa tidak becusnya manajemen JKT48 dalam memberikan pelayanan yang memuaskan baik pada para pekerjanya maupun fans. Sungguh, banyak sekali hal yang membuat saya sebal sendiri, lebih daripada sebalnya para pembenci JKT48.

Tapi gadis-gadis kecil itu terus mengejutkan saya. Berkali-kali. Mereka akhirnya diizinkan punya tempat konser harian sendiri (disebut teater) yang penontonnya terus membludak. Saya membaca satu demi satu laporan dari fans yang menonton teater tersebut mengenai perkembangan mereka, kesedihan mereka, suka cita mereka, dan bagaimana perlahan-lahan mereka menunjukkan bahwa mereka bukan grup parodi tapi sebagai sebuah unit yang tidak tergantikan. Pelan-pelan mereka tidak lagi lipsync dan mulai sanggup bernyanyi live sambil menari enerjik untuk belasan lagu (saya seperempat lagu saja nggak bakal sanggup). Dance mereka tambah lama tambah memukau, bahkan untuk personil-personil yang saya lihat ogah-ogahan. Kemampuan public speaking mereka masih belum cukup baik tapi tidak separah ketika saya melihat mereka saat awal terbentuk. Belum lagi yang membuat saya terheran-heran adalah mereka tambah cantik secara signifikan dalam waktu singkat! Mother of make up or whatever shit they use! Mana cewek-cewek yang dulu kucel kumel itu??

Image
Gerombolan item kucel kumal.
Image
Mentereng

Sekarang JKT48 telah bertambah besar. Mereka sudah bukan lagi anak kucing yang dulu terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya melainkan macan muda yang taringnya sudah mulai tumbuh dan siap bertempur (Arrr!). Saya bisa senyum-senyum sendiri melihat mereka menampilkan cerianya akrobatik “Kitagawa Kenji” di Kouhaku Uta Gassen. Bahkan saya yang tidak hapal chant khas 48 franchise, langsung nge-chant ketika mereka menampilkan “River” pertama kali di Budokan (walaupun hambuh benar apa nggak). Saya teriak-teriak histeris saat mereka pun akhirnya berhasil menampilkan performa yang luar biasa memukau di Konser Tunggal mereka di Jakarta 3-4 Juli kemarin dengan titel, “Perkenalkan, Nama Kami JKT48”. Sungguh, seorang Insan Rekso Adiwibowo tidak pernah lebih nista dari ini. Excitement yang sama seperti yang saya rasakan ketika mendukung tim sepakbola favorit saya yang sudah tidak dapat gelar selama 8 tahun dan dicela dari segala penjuru akhirnya bisa menang Liga Champions! Well, ngayal.

Image
ah, masa lalu….

Saya sadar yang dibawa JKT48 ini bukan tipe hiburan tinggi yang bakal hadir di pertunjukan-pertunjukan seni atau pentas-pentas amat bergengsi. Saya sadar betul bahwa sebaik apapun performa yang mereka tunjukkan atau seberapa banyak pun prestasi mereka, cap girlband yang bermodal tampang, penjual paha, dan pembuat ngences kaum Adam tidak akan hilang. Itu pun bisa jadi benar adanya tapi mungkin dibandingkan “ngeres”, masih banyak hal lain yang bisa dilihat. Setidaknya yang saya lihat selama ini, mereka hanya gadis remaja biasa dengan latar belakang yang biasa, beberapa harus pulang pergi Bandung-Jakarta sambil tetap sekolah, mereka masih menangis setiap kali mereka gagal tampil dengan baik, beberapa dari mereka bahkan anak yatim yang harus jadi tulang punggung keluarga. Mereka melakukan semua yang mereka bisa dalam sebuah ekstrakurikuler bernama JKT48, tidak jauh berbeda dengan peserta POPNAS atau lomba cerdas cermat. Apa yang mereka lakukan jauh lebih positif dari masa SMA saya yang habis dengan jadi remaja angst banyak masalah yang hobi bikin nangis guru.

Saya tidak tahu sampai kapan saya akan memberikan support pada mereka. Yang jelas tidak selamanya. Tapi untuk saat ini saya ingin menikmati proses menyukai sesuatu apa adanya dan merasakannya sepenuh hati. Saya kira, saya hidup di mana semua orang terus menerus membenci dan mengutuk sesuatu. Cinta yang saya lihat di sekitar saya pun hanya cinta posesif yang manis di mulut tapi penuh dengan trik dan manipulasi. Banyak orang yang kelelahan dengan hidup mereka sendiri dan terus menerus mengejar sesuatu yang tidak mereka sukai hanya agar bisa terus hidup dan bergerak. Saya bisa bilang menjadi fans JKT48 meyakinkan saya kembali bahwa saya masih mampu mendukung, mencintai, dan berharap dengan tulus di atas segala macam hal-hal buruk yang dilemparkan hidup pada kita.

Advertisements
Kenapa Saya Jadi Fans JKT48?

40 thoughts on “Kenapa Saya Jadi Fans JKT48?

  1. Tulisan yang bagus! Saya belum lama suka liat JKT48.. Se-cheesy apapun cerita di lagunya (seperti “ah… mungkin bagi dirimu, hanya teman sekelas saja yang jalan pulangnya searah, keberadaan yang seperti angin…} tapi lagu-lagu riang mereka rasanya bikin tersenyum.

    Mungkin karena jadi ingat waktu hidup masih belum terlalu kompleks. Waktu masalah terbesar baru berkisar seputar gebetan kelas sebelah yang tidak membalas salam yang dikirim lewat sahabat.

  2. rayimaz says:

    analitis sekali,.haha bagus buat para fans yg mau benar2 open mind buat fenomena yg menjangkiti mereka,,
    banyak kok yg punya pikiran kaya ente dluar sana,.haha

    JKT48 ibarat toko bunga, maka yg mereka jual bunga,.
    tapi menjual biji bunga,.kadang menyaksikan bagaimana bunga tumbuh dan mekar jauh lebih mnarik daripada melihat bunga yg telah mekar,.

    1. saya sendiri lebih suka memiliki pilihan bebas daripada didikte oleh tren ataupun keterpaksaan. saya suka karena senang, dan ga suka karena memang tidak tertarik. entah saya suka Jeketi maupun Syahrini paling tidak saya merasa harus bertanggung jawab pada diri sendiri atas pilihan yang saya buat. Setidaknya memberikan alasan yang masuk akal sesederhana apapun.

      1. ngaidol says:

        ” saya sendiri lebih suka
        memiliki pilihan bebas
        daripada didikte oleh tren
        ataupun keterpaksaan. saya
        suka karena senang, dan ga
        suka karena memang tidak
        tertarik. ”

        – shits hipsters & snobs say

      2. mungkin iya, mungkin tidak. yang jelas hipster sekarang tidak seindependen yang saya kira. saya cuma kutu buku yang bahkan tidak punya satu pun baju distro di lemari baju saya.

  3. Buat tambahan referensi, cari konsep tentang “demotic turn” deh, itu ada beberapa obrolan ttg “celebrity” dan “ordinariness”. Tulisan2nya bagus btw. Salam kenal dan salam jejepangan, haha. 😀

    1. saya tahunya konsep itu lebih kena pada orang-orang macam Aria Wiguna, Shinta Jojo, atau mungkin dalam bentuk yang lebih baru (bukan lagi media TV tapi media sosial): selebtweet. Adik-adik JKT48 memang dicetakbirukan jadi seleb bukan sebagai ordinary. Masih konsep lama menurut saya. Atau mungkin Mas Detta punya pendapat lain?

      1. flirtyones says:

        Ngga juga justru konsep itu awalnya ada bwt ngejelasin org2 biasa yg jd selebritis gara2 program reality show dan program2 idol di tv. tp emg bs jg dipake bwt selebritis internet, logikanya sama kok.

      2. Yah, secara ga ada reality show macam itu di tempat kita sih. Untuk gaya bisnisnya Aki-P ini saya agak bingung karena ada ciri demotic turn yaitu media exposure, tapi biasanya demotic turn itu dasarnya sensasi dan berlangsung instan. Mungkin momentum ini diekskalasikan Aki-P ke dalam bentuk yang dapat sustain dengan sistem dan strategi marketing yang kuat.

      3. flirtyones says:

        Lho justru banyak lah, afi, indonesian idol, jkt48 itu pake logika yg hampir sama kok kl dr perspektif demotic turn (btw biar jelas ini konsep yg sy maksud dr buku2nya graeme turner ya). Yg sensasi dan instan2 gt jg dibahas sih di bukunya tp ga lalu semua merujuk ke hal2 itu sih oh iya satu lg teori yg menarik tuh ttg “fan culture” dan “participatory culture” nya jenkins, pas jg dipake bwt ngebahas jkt48.. eh sori loh malah panjang lebar, haha

      4. boleh, boleh. nanti saya coba baca-baca dulu. terlalu banyak varian teori untuk budaya massa soalnya. saya biasanya lebih fokus di psikologi-nya. terima kasih sudah berbagi.

  4. darkston3 says:

    udahlah emang pembahasannya bagus..gak usah dipuji lagi..hahahaha..
    bagussss……XD
    sudut pandang yang anda berikan mengarah ke perkembangan member JKT yang dulunya “item kucel kumel”…jadi sesuatu yang “wahh”…

    so, sebagai curious reader, saya cuma mau nanya…
    gimana pendapat anda tentang perkembangan Manajemen JKT yang anda bilang tidak becus..
    terimakasih..

    1. saya kurang tahu. tapi sepengetahuan saya mereka pada dasarnya bukan manajemen independen karena semua keputusan krusial berada di tangan manajemen Jepang. saya anggap mereka masih belajar sama halnya dengan idol dan fansnya. Enaknya, idol sudah punya cetak biru, tapi manajemen dan fans tidak. Mungkin butuh waktu sampai menemukan bentuk yang pas. Memang terlihat amatir dan tidak profesional tapi itu resiko di mereka sendiri. Kalau terus begitu ya mereka sendiri yang menghambat ekspansi pasar mereka.

      1. darkston3 says:

        nah, saya setuju soal manajemen dan fans..jadi,
        apakah menurut anda, JKT butuh campur tangan pihak Jepang secara lebih eksklusif?
        terima kasih,..

      2. menurut saya kok nggak ya? AKS sudah punya terlalu banyak hal untuk di-handle. mungkin perlu manager baru atau setidaknya pembenahan serius di level managerial agar lebih “considerate” ke idol, fans, maupun segala pihak yang bekerja sama.

  5. pom pom says:

    94,123145% jawaban dari KENAPA SAYA JADI FANS JKT48? adalah sama bro, dan kita semua sebenarnya tau knp, ga perlu analisa filosofis dansebagainya. Saya juga waktu mulai burnout sama mencoba2 membuat ke fandoman saya menjadi sesuatau yg lebih tinggi dan lebih kompleks dari yg sebenarnya, terus mencoba memisahkan diri saya dgn wota2 delusional, atau fans2 baru yg trendi “tidak saya gak begitu, saya beda”, akal sehat yg mulai berteriak2 dikepala membangkitkan ego saya untuk melemahkan kegilaan 48 saya dan menjadikan sesuatu yang tidak superficial, padahal sebenernya sesuatu yg superfisial sekali, sama kaya jawaban dari pertanyaan KENAPA SAYA JADI FANS JKT48?

    dan klo ada yg bilang krn suka musik nya saja ? selera musik anda rendah dan kurang luas 😛
    jika ada yg bilang “saya suka babymetal krn saya penggemar musik metal dan keras”, tidak, klo emang suka metal ya dengerinnya band metal beneran, you attracted to the whole package

    saya tidak pintar ngecap dan merangkai kata2, dan mungkin maksud saya tidak tersampaikan dgn benar, tapi, kirakira begitulah

    1. bisa juga. Hanya kadang selera itu bisa jadi begitu kompleks. Anda bisa saja suka pada babymetal tapi tidak suka musik metal. Kembali lagi, apresiasi subjektif selalu terkait pengalaman personal kita, saya suka lagu-lagunya Jeketi karena lagu tersebut membangkitkan nostalgia tertentu dalam diri saya, sesuatu yang menurut saya berharga dalam membentuk diri saya saat ini. Sedangkan apresiasi objektif membutuhkan kriteria-kriteria eksternal seperti musikalitas, kreativitas, dan originalitas yang memang tidak dimiliki JKT48. Yang objektif ini memang dapat diperdebatkan, tapi yang subjektif tidak. Karenanya walaupun diejek seperti apapun saya tetap nonton Sailor Moon tiap pagi meskipun saya juga penggemar berat film-film Shane Carruth. Saya yakin kita semua punya “dosa” semacam itu.

  6. tulisan yang bagus dan yah objektive
    saya juga mempunyai alasan yang sama dengan tulisan di atas dan alasannya semakin kuat seiring dengan perkembangan waktu
    memang saya tidak bisa secara dekat melihat mereka di teater atau acara2 yang diadakan oleh JOT, tapi keyakinan dari seorang fans merupakan pegangan saya
    ^^

  7. mazpenk says:

    bagus bang tulisannya….bisa diteruskan tulis menulisnya gan…
    independen penilaiannya….gk selalu menilai idolnya bagus terus..

  8. Hei you yang SMAnya anak angst banyak masalah yang hobi bikin nangis guru. Sepenggal lirik dari yang SMAnya ketua osis belakang, racing team mocin no satu se udayana (zaman itu).

    #jrenggg

    “BINGO!”

    “Suatu saat, di suatu tempat,
    dirimu se-tua i-tu, o-oh my goood…
    Woow woow wooow~ Woow woow
    wooow~”

    1. #jreng

      “ku ingin kembali
      di saat angin jalanan menerpa
      wajahku yang berjerawat
      menjemput pujaan hati dengan motor tua
      anak Pak Haji RT sebelah
      Woo~ woo~ woo~”

      selamat datang ketua OSIS belakang. Sudikah menerima kopi dan rokok dari pengkhianat open source ini?

  9. Aditya says:

    Ah, mas ganjil. Terimakasih telah menjelaskan fenomena ini. Sekarang saya jadi tahu kenapa saya menyukai gerombolan abg Good looking ini.

    Kalau ada generalisasi perihal fans jeketi yg jomblo sejati, I am not. I am a father of a daughter and having a beautiful gorgeous wife on my side.

    Fenomena yg mengerikan kini malah banyak fans yang merasa member berhutang budi atas popularitas nya sehingga ekspektasi terhadap oshi terlalu tinggi. Saya tidak rela fans begini yang akan menggerogoti eksistensi jeketi. Ah.

    1. Memang, merasa diri sok penting dan sok berjasa akan hadir saat pengorbanan dirasa terlalu banyak. Alangkah baiknya memberi dukungan hanya pada batas yang dirasa tidak akan menggerogoti ketulusan.

      Terima kasih atas komentarnya, Mas Aditya.

  10. saya tidak hanya menemukan alasan kenapa jadi fans jkt dari isi tulisan di atas. saya juga tersadar bahwa masih banyak yang harus saya baca. kemudian menyesal, “ah, mengapa tulisan ini saya baca!”

    note: saya sampai takut gagal memberi komentar dengan pemikiran yg seimbang karena tulisan di atas seperti puisi dalam bentuk yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s